TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PEMBATALAN HIBAH ORANG TUA KEPADA ANAKNYA DENGAN ALASAN ANAK MENDURHAKAI ORANG TUA (Studi Putusan Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA Surabaya )

FAISAL HERMAWAN, 083 111 002 (2016) TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PEMBATALAN HIBAH ORANG TUA KEPADA ANAKNYA DENGAN ALASAN ANAK MENDURHAKAI ORANG TUA (Studi Putusan Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA Surabaya ). ["eprint_fieldopt_thesis_type_Undergraduate" not defined] thesis, IAIN JEMBER.

[img]
Preview
Text
COVER.pdf

Download (100kB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (420kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (448kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (744kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (770kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (665kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf

Download (724kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (504kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (546kB) | Preview

Abstract

Faisal Hermawan, 2016: Tinjauan Hukum Islam tentang Pembatalan Hibah Orang Tua kepada Anaknya dengan Alasan Anak Mendurhakai Orang Tua (Studi Putusan Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA Surabaya). Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Perkara hibah dilarang untuk ditarik kembali. Penarikan kembali atas sesuatu pemberian (hibah) adalah merupakan perbuatan yang diharamkan meskipun hibah tersebut antara dua orang bersaudara atau suami istri. Adapun hibah yang dapat ditarik kembali hanyalah hibah yang dilakukan atau di berikan orang tua kepada anaknya. Sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat, seperti di Pengadilan Agama Lumajang tentang putusan Nomor: 1889/Pdt.G/2010/PA.Lmj, pembatalan hibah ditolak karena menurut PA Lumajang harus mementingkan nilai-nilai keadilan. Berbeda halnya dengan Pengadilan Tinggi Negeri Surabaya putusan Nomor: 223/Pdt.G/2011/PTA Surabaya. Dalam perkara tersebut Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Negeri Surabaya mengabulkan permohonan pembatalan hibah. Disamping kebolehan penarikan kembali hibah orang tua atas anaknya sesuai hadits nabi SAW, majelis hakim juga berpedoman pada dasar bahwa anak tidak diperbolehkan menyakiti perasaan, fisik maupun menjatuhkan martabat orang tua. Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana Dasar pertimbangan hakim dalam perkara pembatalan hibah orang tua kepada anaknya dalam putusan PTA Surabaya Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA.Surabaya? 2) Bagaimana Akibat hukum pembatalan hibah orang tua kepada anaknya dengan alasan anak mendurhakai orang tua dalam putusan hakim Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA.Surabaya.? 3) Bagaimana Tinjauan Hukum Islam tentang pembatalan hibah orang tua kepada anaknya dengan alasan anak mendurhakai orang tua (Studi Putusan Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA Surabaya)? Untuk metode penelitiannya penulis menggunakan Pendekatan penelitian menggunakan Perundang-undangan (Statute Appoach) dan perbandingan (comparative), Jenis Penelitiannya menggunakan Penelitian Normatif dan Teknik Pengumpulan Datanya menggunakan Teknik Dokumentasi (Dokumenter), sedangkan Analisis Bahan Hukum: 1) Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminir yang tidak relevan dengan hal yang hendak dikaji. 2) Pengumpulan bahan-bahan hukum. 3) Melakukan telaah atas isu hukum yang diajukan. 4) Menarik kesimpulan dalam bentuk argument. 5) Memberikan preskripsi terhadap argument yang telah dibangun. Penelitian ini memperoleh kesimpulan: 1) Dasar pertimbangan hakim PTA Surabaya Nomor 223/Pdt.G/2011/PTA.Sby dalam mengabulkan permohonan banding dari para penggugat karena Majelis Hakim lebih berhati-hati dan mengedepankan kemaslahatan. Hati-hati dalam artian mempertimbangkan beberapa kaidah hukum terlebih dahulu, baik Hadits Nabi SAW, Al-Qur’an, maupun Yurisprudensi, baru setelah itu memutuskan permasalahan. 2) Akibat hukumnya dengan adanya pertimbangan alasan dari para Penggugat/para Pembanding untuk mencabut hibah dari Tergugat/Terbanding maka hibah tersebut haruslah dibatalkan, dan akta hibah dinyatakan tidak berkekuatan hukum, serta Tergugat/Terbanding harus menyerahkan seluruh obyek sengketa kepada para Penggugat/para Pembanding dan membayar seluruh administrasi perkara. 3) Hukum Islam dengan sangat tegas menyatakan bahwa hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah dari orang tua kepada anaknya. Hadits-hadits yang menjelaskan tercelanya mencabut kembali hibahnya, menunjukkan keharaman pencabutan kembali hibah yang telah diberikan kepada orang lain. Kebolehan menarik kembali hibah hanya berlaku bagi orang tua yang menghibahkan sesuatu kepada anaknya

Item Type: Thesis (["eprint_fieldopt_thesis_type_Undergraduate" not defined])
Uncontrolled Keywords: PEMBATALAN HIBAH, HUKUM ISLAM
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180127 Mu'amalah (Islamic Commercial & Contract Law) > 18012706 al-Dhaman (Jaminan)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012824 Harta Bersama (Matrimonial Property)
Divisions: Fakultas Syariah > Ahwal As-Syakhsyiyyah
Depositing User: Masrur Rizqon
Date Deposited: 02 Nov 2017 01:41
Last Modified: 02 Nov 2017 01:41
URI: http://digilib.iain-jember.ac.id/id/eprint/201

Actions (login required)

View Item View Item